Lupa Kalau Penjaminnya Tuhan

(Minggu III Masa 40 Hari – 2026)

Air itu (sama dengan makanan) adalah kebutuhan siapa saja: dari segala usia, status, dan tingkat pendidikan, serta orang sehat dan sakit, orang baik dan jahat, orang kudus dan berdosa. Sifanya mendasar karena tanpa air itu semua yang lain tidak ada manfaatnya: kedudukan, kekayaan, dan popularitas dan semua makanan yang lain. Termasuk pencapaian atau keberhasilan yang telah raih dan dinikmati.

Karena itu, dapat dipahami kalau Israel menjadi sangat kecewa tanpa adanya air itu. Dakam kekecewaan itu mereka dengan cepat dan mudah menyalahkan dan bahkan menyerang siapa pun. Terhadap kenyataan itu, Musa juga menjadi takut. Akibatnya, baik Israel maupun Musa kehilangan keyakinan akan Tuhan yang mahabaik, bebas, dan bijaksana. Mereka mudah sekali lupa terhadap segala sesuatu – termasuk mukjizat Tuhan – yang telah mereka alami.

Air yang mereka butuhkan akan memungkinkan mereka untuk sampai kepada tanah terjanji. Analog dengan itu, Yesus menyatakan bahwa air yang dibawaNya adalah mata air dalam diri yang terus-menerus memancar hingga hidup yang kekal. Dalam kehidupan sehari-hari, memiliki air itu berarti menyembah Allah sebagai Bapa dalam Roh dan kebenaran. Meyakini Allah sebagai Bapa berarti tetap tenang, damai, dan nyaman karena yakin disertai, dilindungi, dan dipenuhi olehNya dengan yang perlu untuk kehidupan ini. Dalam Roh dan kebenaran berarti dalam kesesuaian degan batin dan norma perilaku terpuji.   

Untuk hidup seperti itu pastilah kita tidak mungkin apabila mendasarkan hanya pada kemapuan manusiawi diri sendiri. Paulus pun tak mungkin bisa. Ia lumayan berhasil karena keyakinannya yang ditulis dan hari ini kita dengar: kita dibenarkan karena iman dan diberi jalan masuk kedalam rahmatNya. Dengan demikian, ia bahkan berani berkata: berdiri dan mermegah.

Keyakinan seperti ini sering sulit kita miliki karena umumnya tak mudah orang mau mati bagi yang benar. Untuk orang yang baik, mungkin. Yesus telah melakukannya ketika kita masih berdosa, jahat, dan durhaka.

Kita sadari dan kita akui bahwa ada hal yang pokok yang kita takut tidak kita dapatkan, sehingga kita akan terganggu, terhambat, dan terhalang untuk sampai atau masuk ke tempat tujuan, tanah terjanji. Semoga kita tidak sampai pada pikiran, sikap, dan tindakan menyalahkan orang lain dan keadaan. Sebaliknya, kita tetap tenang, damai, dan nyaman karena yakin Tuhan sendiri yang akan memberi yang kita butuhkan.    

(Romo Yohanes Driyanto)

X