CINTA KASIH ITU MELEBIHI KEADILAN

(Minggu Paska V – 2026)

Adalah wajar kalau setiap orang memiliki ikatan primordial, yaitu kecenderungan spontan untuk merasa lebih dekat dengan orang lain yang memiliki kesamaan asal-usul, suku, bangsa, dan bahasanya. Misalnya, orang Jawa cenderung lebih cepat dekat dan akrab dengan orang Jawa. Begitu juga orang dari suku tertentu yang lain dengan orang yang berasal dari suku lain yang sama. Dalam konteks bacaan pada Minggu ini, adalah wajar apabila orang Ibrani merasa lebih cepat dekat dan erat dengan orang Ibrani dan bukan dengan orang Yunani.

Yang wajar itu menjadi keliru, salah, atau bahkan pelanggaran ketika perasaan spontan itu dibiarkan menguasai, sehingga terjadi perlakuan pilih-kasih. Yang dekat didahulukan atau diutamakan. Orang Ibrani lebih diperhatikan daripada orang Yunani. Janda-janda Ibrani dinomor-satukan dan janda-janda Yunani dinomor-duakan. Tindak ketidakadilan terjadi. Ada orang-orang tertentu yang bukan karena kesalahan mereka tidak mendapatkan hak mereka. Akibatnya, mereka berkekurangan. Tujuan adanya milik bersama tidak terwujud.    

Untuk mengembalikan kepada tujuan semula, Para Rasul mulai membagi peran, fungsi, kewenangan, tugas, dan tanggungjawab dengan umat beriman yang lain. Maka dari itu dipilihlah orang-orang dengan kriteria tertentu untuk melaksanakan tugas pelayanan meja. Sementara mereka sendiri memusatkan perhatian pada pelayanan firman dan doa, terpenuhinya kebutuhan spiritual dan jasmani bagi setiap umat pun sungguh-sungguh diusahakan. Sungguh-sungguh diusahakan agar setiap orang berkecukupan.

Petrus menegaskan bahwa itulah salah satu tujuan Gereja yang baru yang dibentuk oleh Yesus, yaitu persekutuan dari orang-orang terpilih, kaum imam rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Gereja yang dari semula sudah selalu berkumpul, bertekun dalam pengajaran para rasul, berdoa, memecahkan roti, dan membentuk milik bersama.

Persekutuan dengan cara hidup seperti itu mempesona banyak orang dan menarik mereka untuk juga percaya kepada kebangkitan dan dibaptis. Persekutuan atau Gereja itu tidak hanya membuat setiap orang berkecukupan secara duniawi tetapi menjawab terutama kerinduan terdalam orang kebanyakan, yaitu kehidupan kekal dan mulia di surga. Ibarat tempat, kehidupan di surga itu ada sangat banyak di rumah Bapa dan sedang disiapkan oleh Yesus.

(Romo Yohanes Driyanto)

X