(Minggu V Masa 40 Hari – 2026)
Pengantar
Adanya kehidupan lain yang berbeda dari kehidupan yang sekarang ini, tidak mudah diyakini. Dibayangkan saja, sulit. Hampir tak mungkin. Apalagi dirasakan atau dialami. Tak mengherankan kalau banyak orang lebih suka atau memilih untuk tidak mempercayainya. Mereka berkeputusan, ber-commitment atasnya, dan bersiap menerima semua konsekuensinya. Karena itu, hidup betul-betul dipusatkan hanya pada yang sekarang dan di sini (hic et nunc).
Kotbah
Slogan “Carpe diem!” menunjukkan betapa sulit bagi kebanyakan orang untuk mempercayai adanya kehidupan setelah mati. (Lengkapnya: Carpe diem! Ede, bibe, et lude, post mortem nulla voluptas = Petiklah hari! Makan, minum, dan bermainlah, setelah mati tidak ada lagi kenikmatan). Walaupun akal-budi dan logika memungkinkan mereka untuk menangkap dan mengargumentasikan kehidupan yang lain itu, mereka cenderung untuk menolaknya. Ketakutan akan kehilangan kesempatan menikmati kehidupan ini mengalahkan keinginan untuk menikmati kebahagiaan kelak yang masih berupa janji dan belum pasti.
Kesulitan untuk meyakini adanya kehidupan setelah kematian itu ternyata sudah dialami oleh Israel kira-kira 600 tahun sebelum masehi. Karena kenyataan itu, Yehezkiel merasa perlu untuk mewartakannya. Ia tunjukkan bahwa kehidupan kembali itu mungkin karena Allah memberikan RohNya kepada manusia yang telah mati.
Dalam hal ini, Yesus tidak hanya mengatakan adanya kehidupan setelah kematian tetapi menunjukkannya secara nyata lewat Lazarus yang telah mati dan hidup kembali. Keadaan Lazarus yang sakit dan pemakamannya yang sudah 4 hari menegaskan bahwa ia memang sudah mati atau meninggal. Badannya yang membusuk dan berbau ternyata tidak dapat menghalangi Yesus untuk mengembalikannya kepada kehidupan. (Yesus menunjukkan adanya kehidupan yang baru atau lain itu lewat Lazarus sebelum nantinya lewat diriNya sendiri).
Kepada umatnya di Roma Paulus menegaskan adanya kehidupan setelah kematian itu dengan menambah argumentasi lain, yaitu dosa dan kebenaran. Tubuh pastilah akan mati karena dosa. Namun, karena kebenaran Roh Kristus dalam diri mereka akan memberikan kehidupan yang baru. Allah yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan menghidupkan kembali tubuh yang fana. Paskah adalah perayaan iman mengenai kehidupan mulia dan kekal yang menjadi jelas, tegas, dan pasti oleh kebangkitan Yesus Kristus. Semoga keterbatasan akal-budi dan kurang kuatnya argumentasi rasional tidak membuat kita meragukan dan memilih untuk tidak mempercayainya, tetapi semakin erat dan teguh meyakininya. Dengan demikian, tanpa mengurangi syukur atas kenikmatan yang dianugerahkan Tuhan di dunia ini, kita tetap memusatkan pemikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan kita pada kehidupan nanti setelah mati.
(Romo Yohanes Driyanto)

