Perkuat Pembentukan Karakter Siswa, LPH Dampingi Program “Me-Map: Mapping Myself” di SMA Santa Maria 3 Cimahi

Bandung, 24 September 2026 — Masa transisi dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) menuju Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan salah satu fase krusial dalam dinamika perkembangan remaja. Memasuki kelas 10, para siswa tidak hanya diperhadapkan pada kurikulum dan lingkungan belajar yang baru, tetapi juga dituntut untuk membangun pemahaman diri yang lebih mendalam, beradaptasi dengan rekan sebaya, serta melatih resiliensi dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) mendampingi siswa-siswi kelas 10 SMA Santa Maria 3 Cimahi dalam kegiatan bertajuk Me-Map: Mapping Myself di Pusdik Militer pada Kamis (24/9/2026). Diikuti oleh sekitar 135 peserta, kegiatan ini memadukan refleksi personal dan dinamika kelompok berbasis experiential learning. 

Mengenal Diri Melalui Sesi “Siapa Aku”

Melalui instrumen mini self-assessment, para siswa diajak mengidentifikasi empat ranah utama perkembangan karakter: self-awareness (kesadaran diri), honesty (kejujuran), empathy (empati), dan resilience/responsibility (ketangguhan dan tanggung jawab).

Penilaian ini bukan berfungsi sebagai tes psikologis, melainkan cermin reflektif agar siswa mampu bersikap jujur terhadap kekuatan maupun area diri yang masih perlu dikembangkan.

Pembekalan dilanjutkan dengan konsep Johari Window untuk memahami pentingnya feedback dalam menyingkap blind spot, serta materi Circle of Control agar siswa bijak menyikapi hal-hal di dalam maupun di luar kendali mereka. 

Dari “Aku” Menuju “Aku dan Orang Lain”

Memasuki sesi kedua, fokus pembelajaran bergeser dari refleksi individu menuju interaksi sosial. Sesi ini difokuskan pada pengasahan keterampilan komunikasi, mendengarkan secara aktif (active listening), pemecahan masalah bersama, serta apresiasi terhadap keanekaragaman karakter. Melalui simulasi dan tantangan kelompok, siswa belajar menyusun strategi, berbagi peran, serta mengkonsolidasikan potensi anggota tim. 

Siswa juga diajak membangun keterikatan (sense of belonging) dengan lingkungan sekolah melalui kuis kesadaran lingkungan dan mindfulness. 

Refleksi Personal: Momen “Surat untuk Diriku”

Rangkaian prosesi diakhiri dengan penulisan “Surat untuk Diriku.” Pada momen ini, siswa memberikan apresiasi terhadap perjalanan hidup mereka sendiri melalui emotional and physical check-in.

Aktivitas ini dirancang untuk menumbuhkan self-compassion, self-acceptance, serta memupuk pola pikir bertumbuh (growth mindset) agar siswa siap melangkah ke depan dengan penuh rasa optimisme.


Bapak M.Bagus Saefiyansyah, S.Pd (Ketua Pelaksana Me Map: Myself”  sekaligus Guru Sejarah) menyampaikan:

“Melalui program Me-Map ini, kami berharap siswa kelas 10 tidak hanya siap secara akademis, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Pengenalan diri yang jujur adalah pondasi utama bagi mereka untuk dapat menerima orang lain dan bertumbuh bersama dalam komunitas.”

Menghidupkan Nilai Verum et Bonum

Nilai yang dihidupi di SMA Santa Maria 3 yaitu Verum et Bonum (Kebenaran dan Kebaikan), dan melalui kegiatan Me-Map ini menjadi sarana konkret dalam menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Kebenaran diwujudkan dalam keberanian untuk melihat diri secara objektif dan jujur, sedangkan Kebaikan diwujudkan dalam sikap saling menghargai, berempati, dan bekerja sama.

Semoga kegiatan ini menjadi pijakan bagi siswa untuk semakin mengenal diri, berempati, dan bertumbuh dalam Verum et Bonum 

Aty