Pembaptisan Yesus: Starting Point of Jesus’s Public Life

Tuhan Allah tak menghendaki Yesus tetap anonim dalam hiruk-pikuk kehidupan. Tak boleh Ia tanpa identitas dan misi yang jelas, tegas, dan pasti. Pada usia 30 tahun Ia dibaptis oleh Yohanes. Pada saat itulah, oleh Allah sendiri, mengenai Dia dinyatakan sebagai Anak Allah yang terkasih (Mt 3: 17). Itulah identitas yang selanjutnya Ia hidupi hingga Ia dijemput maut.

Selanjutnya Ia dibawa ke padang gurun untuk digoda Setan. Di balik godaan itu, sebenarnya Ia menegaskan prinsip yang akan menjadi pegangan hidup dan karya-Nya, yaitu: “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Mt 4: 4), “Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu” (Mt 4: 7), dan “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mt 4: 10).

Berdasarkan identitas dan prinsip itu, Yesus menegaskan alasan keberadaan-Nya di dunia, yang dapat dan harus dilakukan-Nya, atau misi-Nya, yaitu: mewartakan pertobatan dan Kerajaan Allah. Pertobatan adalah perubahan pola pikir, standar penilaian, dan norma perilaku hingga semakin sesuai dengan nilai-nilai Injil. Kerajaan Allah adalah upaya untuk berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak secara benar, usaha untuk berdamai dengan siapa dan apa saja, serta bersukacita dalam Roh (bdk. Rm 14: 17). 

Setelah ada kejelasan, ketegasan, dan kepastian mengenai identitas, prinsip, dan misi-Nya, Yesus mulai betul-betul tampil di depan umum. Yang sungguh-sungguh dan secara konkrit Ia lakukan adalah berkeliling, mengajar, dan menyembuhkan orang-orang yang Ia temui atau datang kepada-Nya (bdk. Mt 4: 23).

(Rm. Y. Driyanto)

X