HOPE, TRUST, AND FAITH

(Minggu II Masa 40 Hari – 2026)

Apabila malam hari anda tidur dan esok pagi bangun, itu namanya harapan (hope). Ketika seorang anak kecil dilemparkan ke udara (atas) dan ia tertawa serta kemudian ditangkap oleh ayahnya, itu namanya percaya (trust). Jika semua orang berdoa meminta hujan dan seorang anak membawa payung, itu namanya iman (faith).

Abraham tidak hanya berharap dan percaya, tetapi juga beriman. Ia menunggu suatu yang baik terjadi. Yang ia tunggu itu pasti akan terjadi karena yang menyatakannya terpercaya. Ia bahkan telah hidup seolah-olah yang dijanjikan itu sudah ia miliki. Dengan alasan itu, ia berangkat walaupun belum tahu kemana harus pergi atau arah yang harus dituju (tanah terjanji).

Sebenarnya ada banyak alasan yang dapat dengan mudah membuatnya samar-samar atau kabur, bingung, dan juga ragu-ragu. Salah satunya, apabila tujuan yang akan diberikan Tuhan kepadanya itu ia mengerti sebagai pengabulan doa yang ia panjatkan, pemberian yang ia minta, balas jasa atas yang ia kerjakan, atau akibat dari yang sudah ia miliki atau ia lakukan. Saat itu Ia belum memiliki atau melakukan apa pun terhadap Tuhan.

Mengenai hal itu, Paulus menegaskan bahwa Tuhan memberikan anugerahNya bukan karena ada perbuatan yang sudah dilakukan, tetapi maksud dan rahmatNya sendiri. Sebelum manusia ada dan lahir ke dunia, Tuhan telah menghendaki agar manusia mengambil bagian dalam hidupNya yang mulia dan kekal.

Oleh Yesus – setelah saatnya tiba – adanya hidup mulia dan kekal itu tidak hanya dipastikan, tetapi hidup seperti itu juga dapat dirasakan atau dialami di dunia walau mungkin hanya sekejap saja. Dalam penampakanNya, beberapa rasul Ia beri kesempatan untuk merasakan atau mengalami kehidupan yang lain itu.  

 Dengan pengalaman itu, para rasul tidak hanya berharap dan percaya akan mendapatkannya, tetapi bahkan telah mulai menghidupinya sewaktu di dunia. Karena itu, mereka siap melepaskan semuanya, termasuk hidup mereka sendiri di dunia. 

(Romo Yohanes Driyanto)

X