Dipanggil Untuk Menjadi Saksi

(Minggu Biasa V, 2026)

Tidak memiliki kepercayaan diri yang sehat dan cukup! Rendah diri! Tidak berharga! Inilah masalah utama bagi kebanyakan orang yang hidup di seputar Yesus. Yang terutama mereka gunakan sebagai ukuran adalah kekayaan, kata orang, dan jabatan (bdk. Mt 4: 1-11). Keadaan menjadi bertambah parah karena muncul keyakinan bahwa mereka tidak mungkin dapat keluar dari keadaan mereka. Dengan keadaan itu, mereka tidak hanya tidak dapat menjadi terang bagi sesama tetapi justru membuat gelap kehidupan orang lain dan diri sendiri.

Terhadap mereka itu Yesus memberikan pernyataan yang jelas, tegas, dan pasti. Bukan harapan, himbauan, atau ajakan!  “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia” (Mt 5: 13-14). Keadaan sekarang, yang terjadi pada masa lalu, dan kemungkinan yang akan terjadi bukanlah patokan atau ukuran. Tidak ada tuntutan atau pun persyaratan.     

Kamu adalah garam! Hampir pasti tak pernah ada garam yang (menjadi) tawar. Masalahnya bukan berharga atau tak berharga, tetapi siap bergabung atau menyatu dengan yang lain dan kehilangan identitas atau tidak. Garam yang masih berbentuk (butiran) pasti akan diambil dan dibuang. Garam yang telah menyerap dalam makanan (dan tak berbentuk atau tak kelihatan) akan membuat makanan enak dinikmati. Filosofi garam adalah kesiapan menyatu atau melebur dengan yang lain dan siap kehilangan identitas.

Kamu adalah terang! Terang tidak hanya pasti kelihatan, tetapi juga membuat yang di sekitarnya kelihatan. Upaya menyembunyikan diri bukan saja sia-sia, tetapi hanya menghabiskan tenaga, biaya, dan waktu.       

Dengan menyadari dan mengerti kedua kenyataan itu, mestinya orang-orang di seputar Yesus itu yakin betapa mereka itu berharga atau bernilai tinggi. Kesediaan untuk menyatu dengan yang lain dan kesiapan tampil seadanya sudah menunjukkan betapa bergunanya mereka itu. 

Mengenai kebergunaan diri itu Nabi Yesaya telah menegaskannya. Cara yang dianjurkannya untuk menghayati dan mewujudkannya adalah: berbagi roti, memberi tumpangan, memberi pakaian, dan tidak menyembunyikan diri dari saudara sendiri. Pada orang lain tidak diperkenankan memasang kuk, menunjuk-nunjuk, memfitnah, serta tidak menyerahkan kepada yang lapar yang diinginkan sendiri dan tidak memuaskan hati orang tertindas.

Dengan melaksanakan semua itu, umat beriman akan mendapati luka-luka mereka segera sembuh, dapat menemui Tuhan setiap saat, dan keadaan gelap kehidupan orang di sekitar berubah menjadi terang karena mereka. 

Sebenarnya – menurut pandangan manusiawi pada umumnya – ada beberapa hal dapat dijadikan alasan oleh Paulus untuk tidak percaya diri. Namun, ia tidak merasakan harga dirinya berkurang ketika dengan lantang ia menyatakan tidak punya kata-kata indah atau hikmat, memutuskan untuk tidak mengetahui apa pun di antara orang-orang di sekitarnya, dan mengaku diri sangat lemah dan gentar. Yang ia pegang hanyalah bahwa ia memberi kesaksian Allah, mengetahui Yesus Kristus, dan keyakinan akan kekuatan Roh.  

Tidak ada alasan apa pun – termasuk keadaan tertentu, kelemahan, atau kekurangan – dapat dijadikan alasan untuk tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup dan sehat, sehingga tidak menjadikan diri sebagai saksi Kristus!

Lewat kesaksian (kita) itu, semoga semakin banyak orang di sekitar kita merasakan atau mengalami kehadiran, perlindungan, dan kasih-setia Tuhan, sehingga mereka memuliakanNya lewat kata-kata, sikap, dan tindakan mereka!

(Romo Y. Driyanto)

X