Home / Berita / P3M periode Juli 2017

P3M periode Juli 2017

“P3M? SIAPA TAKUT”

Penulis : B. Ario Tejo S., S.S., M.Hum.

 

Terpujilah Kau Maha Mulia serta Bijaksana

Hadirlah di antara kami Civitas Unika Parahyangan

Trimalah karya kami akal budi, tangan dan hati

Persembahan pada nusa pertiwi bak amal Pancasila sakti

Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti

sesanti Almamater kami

Dirgahayu Unika Parahyangan

Dirgahayu Dirgahayu

 

Siapakah diantara anggota komunitas akademik UNPAR tidak mengenal lirik ini. Lirik di atas merupakan lirik lagu “Hymne UNPAR”. Lagu ini sering dinyanyikan bersama-sama dalam berbagai peristiwa formal yang diadakan di kampus UNPAR. Tentu saja lirik lagu ini merupakan hasil permenungan yang sangat mendalam dari A.P. Sugiarto, S.H., pengarangnya. Apabila kita mendalami dan merenungkan lirik lagu ini kata demi kata maka kita akan sampai pada semangat dasar dari komunitas akademik UNPAR.

Baris pertama, Terpujilah Kau Maha Mulia serta Bijaksana, merupakan lantunan pujian kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas akademik UNPAR memiliki relasi yang sangat mesrah dengan Sang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Apalagi lantunan pujian ini dilanjutkan dengan suatu permohonan yang tertuang pada baris berikutnya baris kedua, Hadirlah di antara kami Civitas Unika Parahyangan. Permohonan ini merupakan permohonan seluruh anggota komunitas kepada Allah untuk hadir di tengah komunitas dan membimbing seluruh anggota komunitas. Hal ini muncul dari kesadaran bahwa ketika sebuah komunitas akademik mau mendalami ilmu pengetahuan apapun tentang alam semesta dan manusia yang hidup di dalamnya maka pertama-tama mereka harus belajar dari Sang Penciptanya sendiri. Siapakah yang tahu lebih dalam tentang maksud dan tujuan alam semesta dan manusia daripada Sang Penciptanya sendiri? Mempelajari ilmu pengetahuan tanpa kehadiran Sang Pencipta adalah omong kosong dan hanya akan mengarah pada kesombongan diri sendiri. Pada baris ketiga, Trimalah karya kami, akal budi, tangan dan hati, komunitas mempersembahkan seluruh karyanya kembali kepada Allah, baik karya-karya yang berkaitan dengan pengajaran, penelitian maupun karya-karya pengabdian yang telah dilakukan dengan segenap hati. Baris keempat, Persembahan pada nusa pertiwi bak amal Pancasila sakti, menegaskan bahwa semua karya yang dilakukan oleh komunitas adalah dilakukan demi perkembangan dan kemajuan nusa dan bangsa sebagai wujud pengamalan Pancasila yang konkret. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas akademik UNPAR memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap segala persoalan yang ada di negeri ini. Pada akhirnya, semua ini dirangkum dalam baris kelima, Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, yang sering diterjemahkan dengan “Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat”. Dengan kehadiran dan bimbingan dari Allah Sang Pencipta, komunitas berusaha untuk mengetahui dan mempelajari seluruh kebenaran ilmu pengetahuan tentang alam semesta dan manusia yang ada di dalamnya (top-down process). Semua kebenaran ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh komunitas akan atau harus membawa komunitas sampai kepada kebenaran Allah Sang Pencipta (bottom-up process). Kemudian, semua kebenaran ilmu pengetahuan ini digunakan oleh komunitas untuk membaktikan atau mengabdikan diri kepada masyarakat. Pembaktian diri atau pengabdian diri kepada masyarakat merupakan tujuan akhir dari seluruh kegiatan akademik. Dalam lambang UNPAR, sesanti ini ditulis dalam segitiga sama sisi. Sisi yang satu tidak terpisahkan dengan sisi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa semua karya pengabdian kita harus kita persembahkan kembali kepada Allah. Karena itu dalam lagu Hymne UNPAR ada lirik, Terimalah karya kami… Inilah semangat dasar komunitas akademik UNPAR yang tertuang dalam Hymne UNPAR dan semangat inilah yang akan membuat komunitas akademik UNPAR berjaya selamanya. Hal ini diekspresikan dalam kata “dirgahayu” pada baris tujuh dan delapan.

 

Dari Hymne UNPAR ini sebetulnya kita sudah bisa mengetahui bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah bagian yang tidak pernah terpisahkan dari kegiatan akademik di UNPAR. UNPAR tanpa pengabdian kepada masyarakat bukanlah UNPAR lagi. Karena begitu menyatunya semangat pengabdian kepada masyarakat ini dalam diri komunitas akademik UNPAR, maka seandainya pemerintah tidak lagi memasukkan unsur pengabdian kepada masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, komunitas akademik UNPAR tetap akan melakukannya. Pengabdian kepada masyarakat adalah bagian dari jiwa komunitas.

 

Sejak tahun 2014, sebuah Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat atau disingkat dengan P3M dirancang secara khusus untuk mengobarkan kembali semangat pengabdian kepada masyarakat dalam diri komunitas akademik UNPAR dan untuk membantu pelaksanaan pengabdian secara teknis-manajerial dan secara akademik bagi semua program studi di setiap fakultas yang membutuhkan. P3M secara langsung berada di bawah Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) UNPAR. P3M sendiri sejauh ini memiliki program kegiatan pengabdian reguler yang secara rutin selalu diadakan di bulan Januari (di masa liburan antara semester ganjil dan genap) dan di bulan Juli-Agustus (di masa liburan akhir tahun akademik). P3M di bulan Januari biasanya berlangsung selama kurang dari 30 hari sedangkan di bulan Juli-Agustus biasanya berlangsung selama 30 hari atau lebih. Persiapan kegiatan P3M ini secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu persiapan bagian teknis-manajerial dan persiapan bagian akademik. Koordinator kegiatan P3M bagian teknis-manajerial dipercayakan oleh LPH kepada F.X. Bambang K.S., S.S. dan koordinator kegiatan P3M bagian akademik dipercayakan kepada B. Ario Tejo S., S.S., M.Hum. Koordinator kegiatan P3M bagian teknis- manajerial yang juga dibantu oleh dua stafnya Arnold Rurry dan Hanna Thresya bertanggung jawab mengatur pengajuan perijinan-perijinan ke dinas pemerintah, sosialisasi dan promosi kegiatan, mengelola keuangan, membangun jaringan kerjasama dengan pihak-pihak desa dll. Koordinator kegiatan P3M bagian akademik bertanggung jawab mengatur penyusunan jadwal, silabus, penyusunan materi pembekalan mahasiswa, penilaian, dan para pembicara, dan menjalin kerjasama dengan fakultas dan prodi, perekrutan dan pembekalan dosen-dosen pendamping lapangan (DPL) dll. Selain kegiatan-kegiatan pengabdian yang reguler, P3M berusaha terus-menerus melakukan inovasi untuk mencari dan mengembangkan bentuk dan metode baru kegiatan pengabdian di kemudian hari. Dengan demikian, kegiatan P3M ini dapat menjadi alternatif bagi program studi di setiap fakultas yang membutuhkan tempat untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. P3M sebagai nama kegiatan bersifat sangat fleksibel sehingga setiap program studi atau fakultas yang membutuhkan kegiatan P3M sebagai bagian dari proses pendidikan yang mereka rancang dalam kurikulum bisa memilih atau memberikan nama matakuliah sendiri terhadap kegiatan P3M tersebut. Jadi ada kemungkinan bahwa kegiatan P3M ini memiliki nama matakuliah yang berbeda-beda di setiap fakultas atau bahkan di setiap prodi. Mudah-mudahan dengan ini semua, ekspresi: “Siapa? P3M? Takuuut!” dapat berubah menjadi ekspresi: “P3M? Siapa Takut!”.

 

 

Sumber :

  1. Buku Spiritualitas dan Nilai Dasar Universitas Katolik Parahyangan, Edisi Buku Saku, disusun oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH), 2015.
  2. Naskah Akademik Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) yang disusun oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), 2014.